Kini tidak lagi seperti dulu
Aku memahami satu hal yang kuinginkan sejak dulu
Bukan seorang yang dapat menarikku ke tempat terang
yang selalu berusaha membawaku ke tempat yang bermandikan cahaya
Tapi seorang yang mau menjadi temanku,
di tempat terang maupun gelap
Menggenggam tanganku, memberi rasa aman
Bahkan sudi menemaniku di tempat yang remang-remang
berjalan bersama walau tanpa tujuan
Akhir-akhir ini aku berpikir
Bertahan di tempat gelap pun sepertinya tak masalah
Selama aku tidak sendiri
:)
-alkurine
“Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”
Kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah Mandala Wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin
“Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu?
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”
Lampu-lampu berkelipan di Jakarta yang sepi,
kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya.
Kau dan aku berbicara. Tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita
Apakah kau masih akan berkata,
“Kudengar derap jantungmu.
Kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta”
Haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram.
Wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti.
Seperti kabut pagi itu
“Manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”
-Soe Hok Gie
Selasa, 1 April 1969